Hampir setiap orang setiap hari pasti berusaha untuk mengejar kebaikan, pengamalan ilmu, amaliah dan kesolehan. Orang yang terbiasa memberi kebaikan pada sesama akan dinilai masyarakat orang soleh berbudi luhur. Namun kenyataannya di jaman sekarang hal itu tidak di jamin sepenuhnya. Sebab ada sebagian orang yang terbiasa melakukan kebaikan, amalan ilmu dan kesolehan itu hanya sekedar jontrot, sikap perilaku yang dinilai jempolan ternyata bertolak berlakang dengan agama . Jadi proses dalam setahun melakukan kebaikan, amaliah, mengajar, dan berceramah akhirnya harus berhadapan dengan hukum. Tipe orang begitu jelas akan jadi penghuni hotel prodeo. Jadi kebaikan dan pengalaman ilmu harus hangus seketika, yang merasa kasihan adalah pada pihak keluarganya. Sehingga berhati-hati lah jika ada orang yang dinilai penampilan baik baik, suka mengajar pada anak-anak, sehingga berkenalan dengan seorang figur itu jangan terlalu dibanggakan berlebihan. Tapi disikapinya wajar saja dan terus diperhatikannya. Semoga.
Setiap langkah Hati2
Dalam setiap langkah keseharian mesti harus berhati-hati, dari mulai keluar rumah sampai ke kantor, ke kampus, ke sekolah, banyak tantangannya untuk menggelincirkan kehidupan kita, yang dipastikan akan terhina. Namun ada kiat-kiat agar kita terhindar dari godaan yang diinginkan itu. Langkah pertama kita harus senantiasa berdzikir pada Allah SWT. Harus merasa takut diawasi oleh Allah SWT. Berprinsip hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Sikap cuek pada setiap penggoda iman. Sering mengunci percakapan pada orang yang kurang jalan pemikirannya. Banyak tertunduk dan mengalihkan pandangan mata ke tempat lain. Cuma itu, Caag.
Peran Sebaiknya Ganda?
Bagi orang yang sudah berkeluarga tentu peran ayah ( ortu) selain harus bertanggung jawab plus melindungi keluarga, ya mencari sumber kehidupan (bekerja). Namun sebaiknya peran kepala keluarga tidak hanya itu, namun alangkah baiknya harus berperan ganda membantu kesibukan istri yang senantiasa sibuk di dapur. Kalau yang sudah melakukan peran ganda itu penulis salut. Namun bagi yang belum perlu introfeksi diri.”Sejauhmana kecintaan kita terhadap istri, dan merasa ibakah ketika melihat istri bersibuk-sibuk urusan rumah tangga sementara kita duduk sembari baca koran?. Namun kesemuanya itu tergantung pada kebiasaan pihak suami. Yang ndak bisa tak perlu memaksakan kehendak, tapi hati perasaan dalam keseharian harus terjaga dan terasah agar kehidupan lebih terarah harmonis plus seiring sejalan menuju rumah tangga yang sakinah-mawadah warohmah.(Ida.Rukmana)
Strategi mengarungi hidup
Sebagai manusia kita dilalui hari demi hari, minggu, bulan dan tahun. Agar tidak menjadi orang merugi tentu ada beberapa faktor yang perlu direnungkan diantaranya harus : Meningkat ibadah pada Allah SWT, berlaku jujur, jangan menyakiti hati orang lain, hindari dari pergunjingan, amaliyah, serta disiplin dari berbagai hal. Tapi perlu diingat juga hormati kedua orang tua sembari dalam setiap langkah mesti bersikap sopan-santun pada setiap orang.Caag.
Taun Benderang
Setiap orang jika memasuki tahun baru pasti memiliki berbagai program, namun perlu diingat dalam milih program harus tepat, dan secara perlahan dipikirkan prosesnya, sehingga program kita dapat segera terlaksana. Jangan seperti teman saya terlalu banyak program kenyataannya satu pun tidak ada yang jalan, jelasnya cuma diatas kerja doang. Nah, sebaiknya program yang baik ya program untuk bisa menopang kehidupan, tapi itupun jangan sampai mengabaikan program peningkatan ibadah pada Allah SWT. Jelasnya tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin dan tahun benderang. Oleh karena itu, yuuk memulai melakukan program yang nyata.Caag. Ida.RK.
Hidup penjual koran
Dari sekian banyak pedagang koran kebetulan ada yang penulis kenal, memang ia berjualan korannya belum lama. Bermula diperkenalkan pada seorang agen di bursa koran Cikapundung. Nama lengkapnya Itang Kusnadi, penduduk Jalan Siliwangi Bandung. Yang sebelumnya Itang bekerja di suatu lembaga pendidikan, tapi karena sakit cukup lama ia mengundurkan diri. Dan sekarang dari pada menganggur penulis anjurkan jadi pedagang koran, setiap hari berkeliling menawar-nawarkan koran ke setiap pejalan kaki. Subu- subuh sudah Berangkat ke bursa Cikapundung, memberi beberapa eksemplar koran dan majalah. Itang yang sudah memiliki anak satu itu pendidikan terakhirnya SLA. Ia sudah lama ditinggal ayah tercintanya, jadi sekarang tinggal bersama ibunya yang hidupnya mengandalkan warung kecil-kecilan, ia mengatakan, dalam sehari-harinya bisa makan hanya satu kali setiap pukul tiga sore. Itang yang punya saudara tiga orang itu, meski keadaan orang tuanya susah, tetap dalam menghadapi kehidupan tetap bersemangat. Namun kalau terus berjualan koran yang mendapatkan sehari dua ribu rupiah bagaimana masa depannya?. Yang menjadi pikirannya lagi anaknya sudah lama tinggal di neneknya di kampung.’Ya..sya cukup bingung kang dengan keadaan sya berjualan koran mana mungkin mencukupi kebutuhan keluarganya .” seraya menambahkan. Sangat berkeinginan bekerja yang layak, ntah jadi pegawai lestoran, cleaning service, atau apa saja yang penting punya penghasilan. Sebagai tukang koran keliling tentu lebih banyak sukanya ketimbang dukanya, seperti pernah keadaan hujan berjalan membawa koran..tiba-tiba dari arah belakang mobil ngebut, air comberan pun menyebrot ke seluruh badannya termasuk koran pun kotor.”Ya..nasib sebagai tukang koran banyak resikonya..tapi Insya Allah akan saya lakukan sepanjang belum punya pekerjaan tetap.”tuturnya. Dalam mengakhiri percakapannya dengan penulis. Ia sangat mengharapkan ada yang peduli, paling tidak bisa memberdayakan di bidang lain sesuai dengan kemampuan yang di miliki.”Sya cuma ingin bisa makan sehari-hari dan menyekolahkan anak, dan jika ada yang tergerak bisa nge SMS ke saudara HP.085624339645“, katanya.( Ida.RK). 12 Nov 2009 Pk.10.30 Wib.
Celah kehidupan di Kota
KEHIDUPAN DI KOTA ITU cukup pelik dan perlu perjuangan keras, jadi kalau selalu bergengsi tak akan bisa makan, pokoknya hidup seperti bapa ini tak akan berleha- leha karena setiap hari ditunggui periuk nasi. “Demikian diungkapkan seorang penjual abu gosok ketika di temui penulis belum lama ini. Sebut saja Pa Sudinta (nama samaran) sudah hampir sepuluh tahun berjualan abu gosok, yang setiap harinya berkeliling ke berbagai perumahan. di Bandung. Lelaki paruh baya yang sudah memiliki cucu itu, mengakui hanya mengecap pendidikan sekolah rakyat (SR), yang sebelumnya bekerja sebagai kuli ngaduk dan penarik beca. Pahit getir pengalaman ketika jadi penarik beca, sering membawa penumpang berhujan-hujanan, berpanas-panasan, bahkan sempat becanya tersenggol mobil. Karena jadi penarik beca terlalu kecapean, akhirnya ia banting setir jadi tukang abu gosok. Ia yakin meskipun jaman serba canggih tetap yakin pada abu gosok masih di butuhkan setiap ibu rumah tangga. Sedangkan abu gosoknya di dapat dari pembikinan genting atau bata merah.”Alhamdulillah dari berjualan abu gosok kehidupan setiap hari bisa terbantu,”ujar Sudinta, yang di mesjid tempat tinggalnya jadi muadzin. Bahkan dengan aktipnya di mesjid banyak sebagian orang pada menyebutnya pa Ustadz. Sebenarnya Sudinta-Sudinta lain di berbagai kota cukup banyak, mereka termasuk golongan ploletar, mereka makan sehari-harinya mengandalkan hasil cucuran keringat.Mereka Sama sekali tidak membayangkan masa depan pendidikan anak-cucunya. Terbukti empat orang anaknya hanya bisa menamatkan bangku SD.Tapi ketika ditanya apa akan selamanya berjualan abu gosok?. Ya, bagi sya jualan abu gosok mungkin akan terus dilakukan, itupun kalau badan masih memungkinkan kuat.” ucap mang Sudinta. Sosok Sudinta meski sebagai penjual abu gosok tetap sesekali suka menyempatkan menonton berita di berbagai televisi, ia duduk termenung di depan televisi ketika menyaksikan perpolitikan yang terjadi akhir-akhir ini, kalau terus ramai dan tak ada ujung penyelesaiannya gimana negara akan makmur. Sedangkan keinginan masyarakat kemakmuran negara sangat di utamakan. Karena merasa pusing televisi pun segera di padamkan, ia akan segera menjual abu gosoknya, baru juga melangkah dari rumah melihat seekor tikus besar di depa kamar mandi, seekor tikus besar pun segera dihantap oleh sabatang kayu dan kena sasaran. “Hhh..mampus binatang jahat ini, tikus sebesar anak kelenci yang sering menggerogoti daun pintu, uang, makanan pun bisa tertangkap. Melihat sudah teratangkap basah dalam hati Sudinta sedikit tak ada kata penyesalan, memang tikus itu harus ditangkap sebab sangat merusak pertanian. Sudinta pun yakin kalau sudah tertangkap tak mungkin akan datang lagi. Tapi ternyata selang beberapa minggu rekannya pada datang lagi. Saya pun siap untuk menangkapnya lagi, berbagai cara akan dilakukan dan jika nanti tertangkap lagi akan diberi pelajaran harus berenang di ember yang sudah berisi air. Kemudian Tikus itu terbayangkan meronta-ronta ingin keluar, ingin ada kebebesan lagi, ingin menghirup udara segar dari dedaunan..Ah..tikus- tikus kau cukup jahat karung abu pun sampai di gerogoti sesungguh tikus itu cari apa? sepanjang ingatan manusia pasti tidak akan melupakan pada kelakuan mu.(Ida.Rukmana)
Mengenang Hari Pahlawan
Tidak terasa hari ini adalah hari Pahlawan, tentu saja seluruh bangsa Indonesia harus mengenangnya. Para pahlawan ketika itu dengan gigihnya mempertahankan negara Republik Indonesia, dengan rela berkorban nyawa yang bergelimpangan. Itulah pahlawan sejati, yang setiap tanggal 10 Nopember di peringati dan di jadikan hari Pahlawan. Para pelajar pasti sudah mengenal dalam poto sosok Bapak Jendral Sudirman, Bung Tomo dari Surabaya, Pattimura dan Cut Nyadim. Bahkan di Bandung tidak bisa dipisahkan dengan Mochamad Toha Pahlawan dari Bandung Selatan dengan peristiwa Bandung lautan Api. Tapi, para pelajar pun sebaiknya jangan melupakan pada pahlawan tanpa jasa yaitu para guru, pahlawan sampah, pahlawan kebudayaan, pahlawan lingkungan hidup dan lain sebagainya. Namun belakangan ini masih ada orang yang tiba-tiba ingin jadi pahlawan, ya pahlawan kesiangan, ingin jadi orang yang paling terdepan, ingin menonjolkan dari kepakarannya, ingin jadi pengatur lalulintas yang selalu benar, dan ingin memamerkan kekayaan lebih pada publik. Jadi hemat penulis mengenang hari pahlawan,para pahlawan ketika mengusir penjajahan. sebaiknya di jadikan introfeksi diri pada kita dalam kesemangatannya contoh. Bersemangat dalam bekerja, semangat dalam beribadah, semangat berbisnis islami, ikut bersemangat memberantas yang bertolak belakang dengan agama. Akhirnya, sya berdo’a pada para Pahlawan yang telah gugur di medan perjuangan semoga Arwahnya diterima Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkannya diberi ketabahan . Amin ya robbul Alamin. Caag.
Pengendara Motor Vs Kantor
Bagi pegawai kantoran yang bertempat tinggal jauh harus memikirkan kondisi tubuh, terlebih pegawai tersebut dari rumah ke tempat kerja memakai kendaraan roda dua. diperjalanan angin dan polusi selalu menerpa anggota badan kita, dan itu hampir setiap hari. Tapi kondisi begitu sudah jadi resiko seorang pegawai, meski sudah pakai helm tertutup dan berjaket kulit tetap angin akan tembus juga pada badan. Nah, agar tidak cepat masuk angin dan terhindar dari penyakit rematik. Seorang pegawai begitu tiba ke kantor jangan langsung kerja, tapi lakukan dengan pemanasan, atau motor tak di parkir di depan kantor, agak jauh sedikit, kita ke kantornya berjalan kaki agar ada pemanasan. Kalau kita berpikir dan bisa dibayangkan.”Dari badan yang kedinginan kemudian kita tiba-tiba masuk ke ruang kerja yang ber-AC, yang dingin jadi tambah dingin. Yang gawat lagi kalau langsung bekerja pas mendengar lagu lawas dari benyamin (Alm) “Dingin. dingin .dimandiiin yang pasti masuk angin…”Ya, jelasnya badan setiap hari perlu pemanasan agar tidak terhinggap penyakit bronchitis. Ya, kuncinya dalam segala hal harus berdisiplin, disiplin untuk diri, menerapkan disiplin terhadap keluarga.Memang, kenyataannya dalam penerapannya sangat sulit, seorang anak akan patuh terhadap orang tuanya, jika ortunya bersikap disiplin. Kedisiplinan untuk diri sendiri harus dijadikan makanan sehari- hari. Kepatuhan dan kedisiplinan jika dilakukan dengan rutin jelas akan membuahkan hasil keberkahan. Ya terkadang untuk memulainya sangat sulit. Tapi sebenarnya tergantung pada niat dulu, dan situ bersegeralah. Karena kalau tidak sekarang kapan lagi? . Sebab hidup di dunia hanya sekedar transit, yang tentu saja kepatuhan untuk beribadah, kepatuhan dalam mengendarai motor pun harus dibiasakan. Pengendara motor Vs kantor tidak bisa dipisahkan dari waktu yang memburu, ketepatan dalam masuk kantor merupakan tuntutan suatu lembaga. Caag.
Sajak Uang
Sejak kecil aku sudah mengenal uang-uangan dari dedaunan dijadikan mainan. Memang, cukup mengasyikan. Setelah remaja aku lebih mengenal uang beneran yang bisa dipakai belanja kebutuhan. Setelah dewasa aku sangat mengenal kelipatan uang untuk menguasainya jadi orang kaya . Dan setelah tua aku berpikir ingin membagikan uang bagi si kecil, jadi salah kaprah kalau membagikan uang pada orang yang berkecukupan. Dan sekarang aku berpikir kapan saja uang masih menguasai setiap sektor kehidupan.”Ah..uang…uang..meski punya trilyunan, milyaran, jutaan. Termasuk rugi sekali kalau tidak di sertai amaliyah pada se sama manusia. Caag.