Hampir sebagian orang pasti suka merayakan ulang tahun, dan biasanya ada yang di ramaikan dengan mengundang sejumlah kerabat plus meniup lilin, ya kebiasaan begitu sich boleh-boleh saja sepanjang mampuh. Tapi perlu disadari justru yang berulang tahun itu tak perlu di ramaikan seperti budaya barat, karena secara tak sadar bahwa kita (yang berulang tahun) justru mengurangi umur dan paling lebih mensyukuri (secara syukuran ) bersama keluarga. Sesungguhnya usia kita di dunia itu tak akan abadi seperti di akherat, dan alangkah baiknya ketika masih di dunia selain lebih di pokuskan pada ibadah, juga dimanpaatkan pada hal-hal positif, kejujuran, menata langkah perilaku dalam keseharian, belajar bicara yang bermakna, dan lain sbgnya. Namun kenyataannya yang muda dan tua banyak yang tidak disadari, yang berusia muda masih banyak ketika di dunia itu punya waktu dibuang sayang, yang berusia mendekati udzur makin tidak tahu diri, dan bersifat ke kanak-kanakan, sehingga yang semestinya getol dalam beribadah, jadi sebaliknya masih sesekali main kelereng dan main layangan bersama anak-anak, yang lebih parah seminggu sekali mengadu ayam dengan cara tumpangan. Nah, kalau yang tua begitu, bagaimana jadinya masa depan anak dan cucunya. Sebaiknya usia boleh tua tapi semangat masih menggelora untuk melakukan aktifitas yang bermanpaat untuk masyarakat.