Banjir

Kalau setiap musim hujan  tiba di berbagai kota terutama yang rumahnya  berdekatan dengan kali pasti mengalami kebanjiran,sehingga  berbagai media cetak dan elektronika pun memberitakannya,  bagi yang terkena korban banjir pada mengungsi ke lokasi yang aman,  tidak tinggal diam pihak pemerintah dan sebagian para dermawan pada menyumbang. Memang, persoalan banjir cukup menyedihkan, rumah dan harta belanda yang  sudah dimilikinya cukup lama  terendam banjir. Namun yang menjadi pertanyaan mengapa mereka itu tetap kerasan di tempat rawan banjir   tidak segera pindah rumah, tapi  bisa jadi mereka lokasi yang di huni punya hoki dan sejarah tertentu, atau bingung  cari dana untuk membangun  di tempat lain.Ya banjir”banjir..persoalan kita   bersama, cukup sulit  ditanggulangi, di Bandung selatan yang rutin kebanjiran akibat dari sungai Citarum, pengerukan pun sudah di laksanakan, tapi tetap pada saatnya banjir datang tetap penghuni sekitar itu kebanjiran lagi.  Biasanya ditengah kebanjiran yang menyedihkan tidak hanya mengganggu aktifitas si pemilik rumah tapi  anak-anaknya yang masih  sekolah peralatan sekolah pada basah sehingga memperhambat aktifitas sekolah.Yang biasanya  di pagi hari anak-anak SD ceria -riang berjalan bersama temannya  menuju ke sekolah situasi berubah  mendadak sepi, dan  nampak kondisi rumah sudah tergenang banjir, kisah sedih- pilu  seorang  balita ketika di gendong menanyakan kelinci dan boneka berby kesayangannya, seorang kakek di papah  cucunya untuk diungsikan ke tempat yang aman sembari berbatuk-batuk, mungkin dalam benak si kakek seandainya punya rumah di sebuah kota jauh dari sungai mungkin tidak akan mengalami kebanjiran. Menyadari pada nasib anaknya sebagai pegawai  pabrik  terpaksa harus menghuni rumah dipinggir kali. Jadi mengejar kesuksesan hidup sangat penting, dan  sebaiknya terhadap anak hars di semangati untuk lebih ulet  trampil untuk  dalam mengejar kehidupan, jadi   pemukiman yang terkena musibah banjir masih keterkaitan dengan tarap kehidupan seseorang. Akh banjir- banjir sudah menjenuhkan dalam  hidup, kehidupan dan ketentraman rumah tangga jadi terkoyak-koyak, pasrah, penat dan masa depan suram, musibah banjir kian menyentak tanpa pandang bulu, sepertinya alam sudah tidak ramah lagi, tinggal kesadaran sebagai manusia untuk lebih introfeksi  dan mempokuskan ibadah  pada maha pencipta. Akh banjir- banjir ternyata dimana-mana, cukup  beruntung yang tidak  mengalami kebanjiran seperti  rumah yang ada daerah perbukitan, mereka bisa menontonnya  pada orang yang  kena musibah banjir. Tapi sebaiknya tidak   cukup untuk menyaksikan dan bilang waduuuh kasihan”. Namun yang  sangat diperlukan mereka  sebuah kesadaran kemanusiaan untuk membantunya. Semoga.

Tentang idarukmana

saya kelahiran Bandung,sama halnya yang lain, saya seorang lelaki yang haus ilmu pengetahuan,dengan berlatar belakang jurnalist,dan Alhamdulillah sudah menerbitkan karya novel "Bunga Kampus",karier menulis cukup lama,tulisan lainnya berupa: sajak,cerpen, profil,artikel tersebar diberbagai media cetak.Kini, bekerja di sebuah perguruan tinggi Negri di Bandung. Trim's.
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>